Peluncuran Buku “Benteng Pangan, Pertahanan Bangsa” karya Joko Sukoyo (Foto: kabarfokus.id)
Jakarta, kabarfokus.id
“Benteng Pangan, Pertahanan Bangsa” karya Joko Sukoyo adalah buku penting yang hadir pada saat yang tepat. Di tengah dunia yang semakin bergejolak akibat krisis iklim, konflik geopolitik, dan disrupsi rantai pasok global, buku ini mengingatkan kita pada satu kebenaran mendasar: pangan bukan sekadar urusan produksi, melainkan fondasi kedaulatan dan pertahanan bangsa.
Keunggulan utama buku ini terletak pada kemampuannya meluruskan kekeliruan konseptual yang selama ini kerap terjadi dalam diskursus publik. Dengan bahasa yang jernih dan argumentasi yang kokoh, penulis membedakan secara tegas antara swasembada pangan, ketahanan pangan, keamanan pangan, dan kedaulatan pangan – empat istilah yang sering dipertukarkan secara serampangan, padahal memiliki makna, implikasi kebijakan, dan konsekuensi strategis yang sangat berbeda.
Buku ini memberi pencerahan bahwa swasembada tidak otomatis berarti berdaulat, dan ketersediaan pangan tidak serta-merta menjamin ketahanan bangsa. Ketahanan pangan, sebagaimana ditunjukkan dalam buku ini, adalah sistem yang hidup, mencakup produksi, distribusi, akses, keterjangkauan, keberlanjutan, serta kemampuan negara bertahan menghadapi krisis.
Lebih jauh, kedaulatan pangan ditempatkan sebagai dimensi politik tertinggi, di mana bangsa berhak menentukan sistem pangannya sendiri tanpa tekanan eksternal. Yang membuat buku ini semakin relevan adalah keberaniannya menempatkan pangan sebagai bagian dari strategi politik global. Dalam dunia hari ini, pangan telah menjadi instrumen kekuasaan, sumber pengaruh, bahkan alat tekanan antarnegara.
Dalam konteks inilah, buku ini secara tepat memosisikan ketahanan pangan sebagai bentuk pertahanan non-militer yang paling nyata dan paling mendasar. “Benteng Pangan, Pertahanan Bangsa” bukan sekadar bacaan popular-akademik, melainkan rujukan strategis bagi pembuat kebijakan, akademisi, pelaku usaha pangan, dan siapa pun yang peduli pada masa depan Indonesia.
Buku ini tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi mengubah cara pandang: bahwa menjaga pangan berarti menjaga keberlangsungan bangsa dan peradabannya. (LG)














