Sekolah Rakyat Menengah Atas XXI Unesa Surabaya bekali para siswa secara multi softskill (Foto: kabarfokus.id)
Surabaya, kabar fokus.id
Sekolah Rakyat Menengah Atas XXI Unesa Surabaya bekali para siswa secara multi softskill. Pembekalan bermacam kemampuan seperti keterampilan bahhasa, digitalisasi, kewirausahaan dan karakter building diharapkan bisa menjadi bekal para siswa setelah lulus dari Sekolah Rakyat.
Pelaksanaan Sekolah Rakyat di negeri ini sudah berjalan lebih dari 6 bulan. Berbagai metode pembelajaran dan sarana prasarana terus di kembangkan hingga kini. Seperti yang terlihat di Sekolah Rakyat Menengah Atas XXI Unesa Surabaya.
Di sekolah Rakyat ini menampung 100 siswa dan terbagi ke dalam 4 rombongan belajar atau rombel. Selain diajari pendidikan konvensional pada umumnya saat di kelas, para siswa juga menjalani kehidupan asrama dan diajarkan materi keasramaan, serta karakter building yang bisa dibentuk di asrama dengan rasa tangung jawab dan kedispilinan.
Selain itu selama di kelas, para siswa juga di ajari berbagai multi softskill seperti keterampilan bahasa, digitalisasi, kewirausahaan dan karakter building yang diharapkan bisa menjadi bekal para siswa setelah lulus dari Sekolah Rakyat.
Koordinator Sekolah Rakyat Unesa, Mufarrihul Hazin mengatakan, Sekolah Rakyat yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto ini sudah berjalan dengan baik dan efektif, khususnya yang ada di Unesa Surabaya. Pasalnya dengan adanya Sekolah Rakyat ini berdampak positif bagi keluarga yang kurang mampu secara finansial.
Karena itu lulusan Sekolah Rakyat Unesa ini di targetkan bisa melanjutkan kuliah lewat jalur beasiswa di Unesa.
“Sekolah Rakyat sudah digagas Presiden prabowo, ini sudah berjalan dengan baik dan efektif khususnya di Unesa. Sekolah Rakyat berdampak positif bagi pada siswa yang kurang mampu, dan Sekolah Rakyat spesial didesain tidak hanya sekolah saja, tapi di desain didalamnya soal pemecahan permasalahan sosial.” Ujar Mufarrihul
Mereka yang bisa masuk Sekolah Rakyat hanya keluarga dari kurang mampu. Di Sekolah Rakyat di desain kurikulum nasional di sekolah, di asrama di desain softskill. Di targetkan lulusan Sekolah Rakyat bisa mendapatkan beasiswa kuliah di Unesa.
Sementara itu Kepala Sekolah Rakyat Menengah Atas XXI Unesa Surabaya, Prapti Wardani menuturkan, aktivitas pembelajaran para siswa di Sekolah Rakyat ini seperti pada umumnya sekolahan. Namun para siswa juga dibekali berbagai softskill saat di asrama. Kedepan, untuk para lulusan Sekolah Rakyat akan bekerjasama dengan berbagai perusahaan dalam negeri maupun luar negeri. Bagi yang ingin melanjutkan kuliah akan di fasilitasi beasiswa di Unesa.
“Aktivitas pembelajaran para siswa di lakukan di sekolah dan di asrama. Di sekolah seperti biasanya pukul 07.00 WIB sudah masuk, setelah memasuki sore mereka pulang ke asrama. Pembelajaran d sekolaha juga dibekali softskill pembelajaran digitalisasi. Selama di asrama, otomatis ada materi keasramaan, karakter building yang bisa dibentuk di asrama dengan rasa tangung jawab dan kedispilinan. ” Kata Prapti
Kalau di sekolah seperti biasa, juga diberi softskill seperti keterampilan bahasa, digitalisasi dan kewirausahaan. kedepan akan bekerjasama dengan BUMN, perusaahaan umum dalam negeri dan luar negeri bagi yang tidak melanjutkan kejenjang selanjutnya.
“Di sini kita bisa belajar tentang toleransi, persatuan, peduli lingkungan, digitalisasi. Disni kita juga bisa memahami digitalisasi. Harapannya dengan adanya Sekolah Rakyat ini semoga bisa membantu masyarakat yangkurang mampu, apalagi cita-cita saya ingin jadi dokter, sehingga saya harus bisa fokus belajar dan bersekolah,” tutur Naisyila Safa, Siswi Sekolah Rakyat Menengah Atas XXI Unesa Surabaya.
Sekolah Rakyat di Surabaya dirancang berbeda dengan sekolah umum, terutama dari sisi pendekatan pembinaan dan pola hidup siswa. Selain mengikuti kurikulum akademik yang serupa dengan sekolah reguler, para siswa tinggal di asrama, menjalani jadwal harian yang terstruktur, serta dibentuk karakternya melalui disiplin, empati, toleransi, dan kebersamaan. Setiap hari mereka mengikuti program penguatan nilai keagamaan dan karakter melalui aktivitas wajib seperti beribadah, berolahraga, hingga makan bersama. (AG)














