Makna Isra Mi’raj dalam kehidupan spiritual dan sosial modern (Foto: kabarfokus.id)
Surabaya, kabarfokus.id
Peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW bukan sekadar perjalanan sejarah luar biasa dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa lalu menuju Sidratul Muntaha. Di balik peristiwa mukjizat ini, tersimpan rangkaian hikmah mendalam yang menjadi petunjuk bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan spiritual maupun sosial.
1. Penguatan Iman Melampaui Logika
Isra Mi’raj merupakan ujian keimanan yang nyata. Peristiwa ini mengajarkan umat untuk memercayai hal gaib dan kekuasaan mutlak Allah SWT yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Hal ini selaras dengan firman Allah dalam QS. Al-Isra ayat 1:
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami…”
2. Salat Lima Waktu: Mi’raj Spiritual Umat Islam
Berbeda dengan wahyu lainnya, perintah salat lima waktu diterima langsung oleh Rasulullah SAW dari Allah SWT tanpa perantara malaikat Jibril. Salat dipandang sebagai “tiang agama” sekaligus sarana “mi’raj” atau komunikasi langsung antara hamba dengan Sang Pencipta.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:
“Salat adalah tiang agama, barangsiapa mendirikannya maka ia telah mendirikan agama dan barangsiapa meninggalkannya maka ia telah meruntuhkan agama.” (HR. Baihaqi).
3. Pembersihan Diri (Tazkiyatun Nafs)
Sebelum menempuh perjalanan suci, hati Nabi Muhammad SAW disucikan terlebih dahulu dengan air zam-zam. Ini mengandung pesan moral bagi umat Islam untuk senantiasa melakukan pembersihan hati dari sifat tercela (hasad, sombong, riya) sebelum menghadap Allah dalam ibadah maupun dalam kehidupan sehari-hari.
4. Keseimbangan Hubungan Vertikal dan Horizontal
Hikmah besar lainnya adalah pentingnya keseimbangan antara ibadah kepada Allah (Hablum Minallah) dan hubungan baik sesama manusia (Hablum Minannas). Rasulullah diperlihatkan berbagai tamsil (perumpamaan) pahala dan siksa, yang memotivasi umat untuk berorientasi pada akhirat tanpa melupakan tanggung jawab sosial di dunia.
5. Keteguhan dalam Menyampaikan Kebenaran
Pasca peristiwa tersebut, Nabi Muhammad SAW menghadapi tantangan berat berupa penolakan dan ejekan dari kaum Quraisy. Namun, beliau tetap teguh menyampaikan kebenaran meski pahit. Hal ini menjadi teladan bagi para pendakwah dan umat Islam untuk tetap istiqamah dan sabar dalam menghadapi ujian hidup.
Kesimpulan: Meneladani Kesabaran Rasulullah
Isra Mi’raj menegaskan bahwa syariat Islam adalah penyempurna dari syariat-syariat sebelumnya. Peristiwa ini memotivasi kita untuk tidak mudah putus asa. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW yang diberikan “hiburan” melalui perjalanan ini setelah masa kesedihan (Amul Huzni), setiap kesulitan pasti akan diikuti dengan kemudahan bagi mereka yang bertakwa.
Dengan memahami hikmah Isra Mi’raj, diharapkan umat Islam tidak hanya merayakannya secara seremonial, tetapi mampu menjadikannya momentum transformasi diri menuju pribadi yang lebih disiplin, ikhlas, dan seimbang. (SJ)














