Jakarta, kabarfokus.id
Gema Citra Nusantara (GCN) kembali merayakan kekayaan budaya Indonesia melalui pagelaran seni berskala besar bertajuk “Semarak Tari Ratoh Jaroe”, yang berpuncak pada pertunjukan megah “Teater Musikal Keumalahayati” pada 22–23 November 2025 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat.
Tahun ini, GCN menghadirkan sebuah produksi yang bukan hanya menonjolkan keindahan seni pertunjukan, tetapi juga mengangkat sosok pahlawan nasional perempuan dari Aceh yang pantas dikenang oleh seluruh bangsa yakni Laksamana Keumalahayati, perempuan pertama dalam sejarah Nusantara yang memimpin armada laut dan memegang komando dalam mempertahankan tanah air dari ancaman penjajah.
“Kami ingin mengenalkan keberanian dan semangat kepahlawanan Keumalahayati agar bisa dikenal lebih luas, tidak hanya di Aceh, tetapi di seluruh Indonesia bahkan dunia,” ungkap Mira M. Arismunandar, Executive Producer sekaligus Ketua Umum GCN.
Pagelaran ini menggabungkan seni tari, drama musikal, dan narasi sejarah untuk menghidupkan kembali sosok Keumalahayati yang selama ini kurang mendapat sorotan meski jasanya sangat besar.Sebagai bentuk komitmen terhadap keselamatan dan kesehatan dalam penyelenggaraan event publik, Universitas Indonesia Maju (UIMA) turut berpartisipasi dalam pagelaran ini dengan menghadirkan tim medis lengkap beserta unit ambulans.
Dipimpin oleh dr. Putri Saskia Harimurti, tim medis UIMA terdiri dari 20 tenaga paramedis, yang dibagi dalam dua shift selama dua hari pementasan. Kehadiran tim medis menjadi elemen penting mengingat acara ini melibatkan hampir 1.000 orang, termasuk penonton, para penari, serta performer dalam drama musikal berskala kolosal.
Dengan latihan intensif dan pertunjukan yang menuntut stamina tinggi, potensi kelelahan hingga cedera ringan tentu menjadi perhatian utama. Karena itu, UIMA memastikan penanganan cepat, profesional, dan responsif di lokasi acara. Seluruh personel telah disiapkan untuk menangani berbagai kondisi, dari kelelahan, kram otot, hingga keadaan darurat yang membutuhkan tindakan medis lebih lanjut.
“Bagi kami, keselamatan adalah prioritas tertinggi. Dukungan medis dalam event kebudayaan bukan sekadar fasilitas, tetapi bentuk penghargaan terhadap para seniman, kru, dan masyarakat yang datang merayakan kebudayaan Indonesia,” ujar dr. Putri Saskia.
Menghidupkan Semangat Keumalahayati Lewat Seni
Teater musikal ini menggambarkan perjalanan heroik Keumalahayati — putri Aceh yang lahir sekitar tahun 1550 dan menghabiskan hidupnya mempertahankan tanah air dari rongrongan penjajah.
Berpendidikan militer di Meurah Pupok dan kemudian memimpin pasukan Inong Balee, Keumalahayati dikenal bukan hanya sebagai panglima perang yang strategis, tetapi juga sebagai simbol keberanian perempuan Nusantara.
Melalui kolaborasi seni dan musik yang memadukan tradisi Aceh dengan sentuhan modern, GCN membawa kisah ini ke panggung besar agar generasi muda dapat mengenal pahlawan perempuan yang berperan nyata dalam sejarah laut Nusantara.
Keterlibatan UIMA dalam event budaya nasional ini sejalan dengan komitmen kampus untuk terus “stay relevant”, hadir, dan berkontribusi langsung pada kegiatan masyarakat, baik di bidang pendidikan, kesehatan, maupun kebudayaan.
Kolaborasi seperti ini juga membuka ruang edukasi praktis bagi tenaga kesehatan UIMA, sekaligus memperluas jangkauan layanan publik yang berdampak nyata. (LG)














