Tag: Bandara bali utara

  • Menagih Janji Bandara Bali Utara: Dari Puri Jambe ke Istana Negara

    Menagih Janji Bandara Bali Utara: Dari Puri Jambe ke Istana Negara

    Pembangunan Bandara Internasional Bali Utara belum terealisasi. (Foto: LG)

    Denpasar, kabarfokus.id

    Pertemuan itu dipandu Made Sutadana dan dihadiri antara lain Penglingsir Puri Agung Buleleng Anak Agung Ngurah Ugrasena, Penglingsir Puri Blahbatuh Anak Agung Kakarsana, Penglingsir Puri Agung Petak Cokorde Dibya, mantan Wakil Bupati Buleleng Gede Wardana, Ketut Mister, Gede Mahaputra, Jro Mangku Badra, serta tuan rumah Penglingsir Puri Jambe Anak Agung Rai Iswara.

    Hadir pula CEO PT BIBU Panji Sakti, Erwanto Sad Adiatmoko Hariwibowo, inisiator proyek bandara yang selama satu dekade terakhir menjadi wacana besar pembangunan Bali Utara. Di ruang pertemuan yang sarat simbol sejarah itu, kegelisahan terasa nyata: janji Presiden Prabowo Subianto saat kampanye Pemilu Presiden 2024 untuk membangun bandara di Bali Utara telah dicatat resmi dalam dokumen negara, tetapi publik belum melihat tanda-tanda dimulainya pembangunan.

    Sudah Masuk RPJMN, Tapi Belum Groundbreaking

    Secara administratif, pembangunan Bandara Bali Utara telah tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029. Dokumen itu ditandatangani Presiden pada Februari 2025 dan memasukkan proyek bandara sebagai bagian dari strategi penguatan konektivitas dan pemerataan pembangunan wilayah.

    Tak hanya bandara, RPJMN juga memuat rencana pembangunan jalan tol yang menghubungkan Kubutambahan–Singapadu–Kintamani–Bangli–Denpasar sebagai dukungan infrastruktur utama. Skema ini dimaksudkan untuk membuka akses dari utara ke pusat ekonomi dan pariwisata di selatan.

    Namun hingga awal 2026, belum ada pengumuman jadwal groundbreaking, dan belum ada kepastian tahapan konstruksi. emerintah daerah menyebut pencantuman dalam RPJMN sebagai “arah kebijakan makro”, bukan keputusan teknis yang otomatis memulai proyek. Bagi warga Bali Utara, jawaban itu belum cukup. “Kami tidak lagi ingin sekadar wacana. Bandara Bali Utara bukan hanya proyek, tetapi kebutuhan strategis bagi Bali Utara dan seluruh Bali. Sudah saatnya janji itu direalisasikan dengan jadwal nyata,” ujar Anak Agung Ngurah Ugrasena, Penglingsir Puri Agung Buleleng.

    Bandara Ngurah Rai: Menuju Titik Jenuh

    Desakan pembangunan bandara baru bukan tanpa dasar. Bandara I Gusti Ngurah Rai di Tuban, Bali Selatan, saat ini melayani lebih dari 23–24 juta penumpang per tahun. Setelah pandemi, lonjakan wisatawan mancanegara kembali signifikan, dengan tingkat pemulihan mendekati bahkan melampaui angka pra-Covid.

    Kapasitas optimal bandara itu diperkirakan akan mencapai batas dalam beberapa tahun ke depan. Secara desain, Ngurah Rai memiliki keterbatasan fisik—hanya satu landasan pacu utama dan ruang ekspansi yang sangat terbatas karena berbatasan langsung dengan laut dan kawasan padat permukiman.

    Kepadatan penerbangan berdampak pada antrean pesawat, keterbatasan slot, serta risiko gangguan operasional ketika terjadi cuaca buruk. Di darat, kemacetan menuju dan dari bandara menjadi keluhan rutin wisatawan dan pelaku industri. Masalah ini bukan sekadar soal kenyamanan. Dalam konteks destinasi global, konektivitas udara adalah tulang punggung daya saing.

    Overtourism dan Tekanan Bali Selatan

    Persoalan Bali tidak berhenti pada bandara. Selama dua dekade terakhir, pembangunan pariwisata terpusat di selatan: Badung, Denpasar, Gianyar. Wilayah ini menyumbang mayoritas Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali. Sementara Bali Utara—Buleleng dan sekitarnya—berkontribusi jauh lebih kecil. Konsentrasi ini melahirkan fenomena overtourism: kondisi ketika jumlah wisatawan melampaui daya dukung lingkungan, sosial, dan budaya. Dampaknya nyata: Kemacetan kronis di Kuta, Seminyak, Canggu, dan Uluwatu, Lonjakan volume sampah dan tekanan terhadap sistem pengelolaan limbah, Krisis air bersih di beberapa kawasan hotel, Alih fungsi lahan produktif menjadi akomodasi dan vila.

    Dalam beberapa tahun terakhir, sorotan internasional juga tertuju pada peningkatan kasus kriminalitas yang melibatkan wisatawan asing, termasuk pelanggaran hukum, penyalahgunaan izin tinggal, hingga keterlibatan dalam jaringan kejahatan lintas negara.

    Pemerintah daerah bahkan sempat membentuk satuan tugas khusus untuk menertibkan perilaku wisatawan yang melanggar norma dan hukum lokal.Secara sosial, harga tanah dan biaya hidup di Bali Selatan meningkat tajam, memicu ketegangan sosial dan mempersempit ruang hidup masyarakat lokal.

    Ketimpangan Utara–Selatan dan Migrasi Tenaga Kerja

    Sementara Bali Selatan tumbuh pesat, Bali Utara tertinggal dalam arus investasi dan peluang kerja. Banyak angkatan kerja dari Buleleng dan sekitarnya memilih merantau ke Denpasar dan Badung untuk bekerja di sektor perhotelan, restoran, dan jasa pariwisata.

    Migrasi ini membawa dua konsekuensi:

    1. Penumpukan penduduk di selatan yang semakin membebani infrastruktur.

    2. Perlambatan ekonomi lokal di utara karena tenaga produktif berpindah.

    “Ini bukan soal ego wilayah, tetapi soal pemerataan pembangunan. Selama ini Bali terlalu berat ke selatan. Bandara di utara akan meratakan peluang,” kata Gede Wardana, mantan Wakil Bupati Buleleng.

    Bandara baru di utara diyakini akan menjadi katalis ekonomi: membuka hotel, kawasan industri pariwisata, logistik, hingga pusat UMKM berbasis budaya dan pertanian lokal.

    Skema Investasi: Tanpa APBN

    Proyek Bandara Internasional Bali Utara (BIBU) yang diinisiasi PT BIBU Panji Sakti nantinya tidak menggunakan dana APBN maupun APBD. Pendanaan disebut murni dari investasi swasta dan konsorsium internasional. Nilai investasi yang beredar di publik mencapai sekitar US$3 miliar atau setara kurang lebih Rp50 triliun.

    Penandatanganan kerja sama investasi disebut berlangsung di Beijing antara PT BIBU dan perusahaan konstruksi asal Tiongkok, ChangYe Construction Group.Selain itu, proyek ini juga disebut melibatkan perusahaan dari Australia dan Korea Selatan, serta BUMN Indonesia seperti PT LEN Industri, PT Dirgantara Indonesia, dan PT Garuda Daya Pratama Sejahtera dalam ekosistem pendukung.

    Dari sisi desain, bandara dirancang memiliki dua landasan pacu internasional, Terminal penumpang lebih dari 200.000 meter persegi, Kapasitas awal sekitar 20 juta penumpang per tahun, Terminal kargo dengan kapasitas ratusan ribu ton per tahun. Konsep berbasis filosofi Tri Hita Karana.

    Erwanto menegaskan kesiapan pihaknya. “Kami siap – secara teknis, desain, dan investasi. Semua kajian sudah kami siapkan. Yang kami tunggu sekarang adalah kepastian kebijakan dan penetapan lokasi resmi dari pemerintah,” ujarnya.

    Menurut Erwanto lagi, proyek ini diproyeksikan dapat membuka hingga 200 ribu lapangan kerja, langsung maupun tidak langsung, dari fase konstruksi hingga operasional.

    Dimensi Politik dan Kepercayaan Publik

    Masuknya proyek dalam RPJMN memberi legitimasi formal. Namun tanpa langkah konkret, legitimasi itu bisa berubah menjadi sumber skeptisisme publik.

    “Pembangunan harus didorong oleh data dan kebutuhan masyarakat, bukan sekadar peta politik. Tanpa kepastian lokasi dan groundbreaking, kepercayaan publik akan terus menipis,” kata Anak Agung Rai Iswara, tuan rumah pertemuan di Puri Jambe.

    Dalam sistem perencanaan nasional, RPJMN adalah dokumen arah kebijakan lima tahunan. Tetapi pelaksanaan proyek strategis tetap memerlukan penetapan lokasi, studi kelayakan final, izin lingkungan, dan kepastian skema pembiayaan.Tanpa tahapan itu, bandara hanya akan menjadi catatan dalam buku perencanaan.

    Keniscayaan atau Sekadar Wacana?

    Bagi banyak tokoh Bali Utara, pembangunan bandara bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan. Argumentasinya sederhana:

    1. Kapasitas Bandara Ngurah Rai terbatas dan menuju jenuh.

    2. Overtourism di selatan telah melampaui daya dukung.

    3. Ketimpangan pembangunan utara–selatan perlu dikoreksi.

    4. Investasi swasta telah menyatakan kesiapan.Pertanyaannya kini bukan lagi “perlu atau tidak”, tetapi “kapan dan bagaimana”.

    Pertemuan di Puri Jambe mungkin tidak menghasilkan keputusan resmi. Namun ia merekam satu hal penting: ada suara kolektif dari akar budaya Bali yang meminta keseimbangan pembangunan.

    Jika janji kampanye telah masuk dokumen negara, publik kini menunggu tanda paling konkret dari sebuah komitmen politik: tanggal dan alat berat pertama yang menyentuh tanah Bali Utara.Sampai saat itu tiba, Bandara Bali Utara tetap berdiri sebagai gagasan besar – yang terus dinanti untuk menjadi kenyataan. (LG)

  • Bandara Internasional Bali Utara: Gerbang Kesejahteraan untuk Bali dan Indonesia

    Buleleng-Bali, kabarfokus.id

    Pembangunan Bandara Internasional Bali Utara (North Bali International Airport) yang akan dibangun di Kubutambahan, Buleleng memasuki babak penting. Bandara ini nantinya bukan sekadar fasilitas transportasi baru, namun manifestasi dari visi besar Presiden Prabowo Subianto.

    Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang merata di seluruh Indonesia. sekaligus sebuah karya arsitektur yang merangkul kearifan lokal Bali, Tri Hita Karana.

    Bandara yang berlokasi strategis di Kubutambahan, Buleleng, ini digagas sebagai jawaban atas desakan kebutuhan infrastruktur pariwisata dan logistik yang selama ini terpusat di Bali Selatan.

    Bandara ini juga menjadi salah satu proyek strategis Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2025-2029 (RPJMN), yang disusun Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas dan kemudian menjadi Perpres No. 12/2025 yang ditandatangani Presiden Prabowo pada 10 Februari 2025 lalu.

    Perpres itu merupakan tindak lanjut Presiden Prabowo yang sebelumnya pada 3 November 2024 lalu di Sanur, Bali.

    “Saya berkomitmen membangun North Bali International Airport. Kita harus bekerja keras. Kita harus berani berfikir yang besar. Berani berfikir yang orang lain bilang tidak mungkin, kita akan buktikan mungkin!” kata Presiden Prabowo ketika itu.

    Maka realisasi bandara ini nantinya bukan sekadar jawaban atas kebutuhan infrastruktur pariwisata dan logistik, melainkan juga perwujudan cita-cita Presiden Prabowo untuk menghadirkan pusat pertumbuhan baru di Bali Utara.

    Dengan pembangunan ini, Bali Utara akan menjadi pusat pertumbuhan baru yang diharapkan dapat menyeimbangkan pembangunan di Pulau Dewata yang kini pembngunannya terlalu “berat” ke selatan.

    Nantinya memberikan dampak kesejahteraan yang lebih luas bagi masyarakat Bali Utara dan Indonesia. Perpaduan Teknologi Modern dan Tri Hita Karana Desain bandara ini merupakan hasil kolaborasi dari para putra-putri terbaik bangsa, yang dipercayakan kepada Alien Design Consultant (Alien DC), sebuah firma konsultan desain terkemuka yang dipimpin Hardyanthony Wiratama.

    Acara Peluncuran Desain Bandara Internasional Bali Utara ini digelar pada Rabu 24 September 2025, di Kantor PT BIBU Panji Sakti di kawasan Kubutambahan, Buleleng.

    Acara juga dihadiri CEO PT BIBU Panji Sakti Erwanto Sad Adiatmoko, Wakil Presiden Komisaris PT BIBU Marsekal (Purn) Ida Bagus Putu Dunia, Komisaris PT BIBU Komjen (Purn) I Made Mangku Pastika, para penglingsir yang tergabung dalam Paiketan Puri-Puri Se-Jebag Bali (P3SB). Yang jumlahnya mencapai 13 penglingsir, para perbekel, tokoh agama, hingga tokoh masyarakat.

    Hardy, demikian ia akrab disapa, menegaskan bahwa desain bandara ini tidak hanya mengedepankan fungsionalitas dan teknologi, tetapi juga menjiwai filosofi Tri Hita Karana.

    “Kami ingin bandara ini bukan hanya menjadi gerbang modern yang menghubungkan Bali dengan dunia, tetapi juga sebuah ruang yang hidup dan bernapas dengan roh Bali,” Ujar Hardy

    Hardy juga menjelaskan tentang konsep desain bandara yang mengadaptasi “Filosofi Tri Hita Karana – harmoni antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam.

    “Kami terjemahkan secara konkret filosofi itu ke dalam tata ruang, pemilihan material, serta integrasi sebuah bandara internasional dengan lanskap alam Buleleng yang memesona,” katanya.

    Secara visual, bandara ini akan memancarkan konsep modern, futuristik, dan berteknologi tinggi, namun dengan sentuhan identitas Bali yang kuat. Terminal dirancang dengan pendekatan ramah lingkungan, menggunakan sistem energi terbarukan, sirkulasi udara alami, dan integrasi lanskap hijau yang menonjolkan keindahan alam pegunungan dan lautan Buleleng.

    Desain ini mencerminkan komitmen untuk membangun infrastruktur yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Proyeksi menunjukkan bahwa bandara ini memiliki kapasitas untuk menampung lebih dari 20 juta penumpang per tahun, menjadikannya hub konektivitas internasional baru yang signifikan.

    Selain mendukung sektor pariwisata, bandara ini juga akan berfungsi sebagai pusat logistik yang vital untuk mendukung perdagangan dan ketahanan pangan nasional.Bandara ini diproyeksikan memiliki dua landasan pacu internasional sepanjang 3.600 meter, yang mampu melayani pesawat berbadan lebar seperti Airbus A380 atau Boeing 777.

    Terminal penumpang utama akan menempati area seluas lebih dari 200.000 meter persegi, dengan kapasitas awal 20 juta penumpang per tahun, yang dapat ditingkatkan hingga 50 juta penumpang dalam tahap pengembangan berikutnya. Selain itu, bandara juga akan dilengkapi terminal kargo modern dengan kapasitas 250.000 ton per tahun, mendukung logistik dan rantai pasok nasional. Dari sisi ekonomi, pembangunan bandara ini diperkirakan menyerap lebih dari 200.000 tenaga kerja langsung maupun tidak langsung.

    Dampaknya tidak hanya meningkatkan pariwisata di Bali Utara, tetapi juga memperkuat akses pasar bagi produk lokal, mempercepat distribusi hasil pertanian, dan membuka peluang investasi baru di sektor perhotelan, transportasi, hingga ekonomi kreatif.

    Rencana pembangunan bandara ini mendapat apresiasi tinggi dari berbagai pihak, termasuk dari figur-figur berpengaruh di sektor pertahanan dan kebudayaan. Adalah Wakil Preskom Marsekal (Purn) Ida Bagus Putu Dunia (yang menjabat Kepala Staf TNI-AU pada 2012-2015), melihat proyek ini sebagai simbol kemandirian dan kecanggihan bangsa.

    “Desain bandara ini membuktikan bahwa kita mampu membangun infrastruktur kelas dunia tanpa kehilangan jati diri budaya. Inilah contoh nyata bagaimana teknologi canggih dapat berpadu harmonis dengan kearifan lokal,” ujar Putu Dunia.

    Bandara Akan Menjadi Ikon Bali Masa Depan: Modern, Hijau, dan Berdaya Saing Global.

    Dukungan juga datang dari perspektif sosial-budaya. A.A. Oegrasena, Penglingsir Puri Buleleng atau yang dikenal sebagai Raja Buleleng, menyambut baik inisiatif ini sebagai langkah strategis untuk pemerataan pembangunan.

    “Selama ini pembangunan Bali terkonsentrasi di wilayah selatan. Bandara Internasional Bali Utara akan menjadi titik balik, tidak hanya untuk Buleleng, tetapi untuk kesejahteraan Bali secara keseluruhan. Kami melihat ini sebagai warisan berharga bagi generasi mendatang.” ujar Oegrasena

    Visi Presiden Prabowo dan Dampak Ekonomi

    Pembangunan Bandara Internasional Bali Utara adalah perwujudan nyata dari visi Presiden Prabowo Subianto yang sejak awal menggaungkan pentingnya pembangunan infrastruktur yang merata di seluruh pelosok negeri.

    Proyek ini bukan sekadar tentang transportasi udara, melainkan juga tentang pemerataan ekonomi, peningkatan kapasitas pariwisata nasional, dan simbol kemandirian bangsa. Dengan bandara ini, wilayah utara Bali yang selama ini cenderung kurang berkembang akan mendapatkan dorongan ekonomi yang signifikan melalui peningkatan mobilitas, investasi, dan penciptaan lapangan kerja.

    Alien DC, sebagai perancang utama, memiliki rekam jejak yang solid dalam menggarap berbagai proyek ikonik, mulai dari gedung perkantoran ramah lingkungan, pusat transportasi modern, hingga kawasan pariwisata berkelanjutan, baik di dalam maupun luar negeri.

    Memadukan kreativitas lokal dengan standar internasional yang ketat, menghasilkan karya-karya yang tidak hanya fungsional, tetapi juga memiliki nilai estetika dan filosofis.

    Dengan hadirnya Bandara Internasional Bali Utara, terbentang harapan besar bagi Bali. Pulau Dewata akan semakin mendunia, namun tetap setia pada akar budayanya. Infrastruktur modern bertemu kearifan lokal, dan cita-cita besar Presiden Prabowo kini menemukan wujud nyatanya di tanah Buleleng. (LG)